Senin, 08 Juni 2020

Resume Materi Belajar Menulis Gelombang 12























Resume Materi Belajar Menulis Gelombang 12

Pertemuan 04              : Senin, 8 Juni 2020 

Waktu                         : Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Pemateri                      : Emi Sudarwati

Topik                           : Berbagi pengalaman menerbitkan buku

Penulis                         : Arum Handayani_ SMPN 3 Subang (arumhandayani335@gmail.com)



Pembelajaran malam ini diawali dengan memperkenalkan buku karya pemateri serta proses penerbitanntanya. Beliau bercerita dari tahun 2013 hingga tahun 2019, berikut adalah buku dan paparannya.



Pada tahun 2013.  Penmateri bergabung dengan sebuah kelompok penulis di Bojonegoro.  Namanya PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro).  Di sana pemateri banyak berjumpa dan berkenalan dengan penulis-penulis senior.  Seperti : JFX. Hoery (Padangan-Bojonegoro),  Sunaryata Soemardjo (Ngimbang-Lamongan), Nono Warnono (Gajah Indah-Bojonegoro), Gampang Prawoto (Sumberrejo-Bojonegoro), Sri Setyo Rahayu (Surabaya), almarhum Anas AG (Pemred  Radar Bojonegoro-waktu itu), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari orang-orang hebat di dunia tulis-menulis itu, akhirnya pemateri mendapatkan pencerahan.  Bahwa karya siswa yang sudah terkumpul bisa diterbitkan dengan ISBN (Internsional Standart Book Nomber).

Pada awal tahun 2014 ini terbitlah Kumpulan Cerkak karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno dengan judul buku LUNG.

Pada penghujung tahun 2014.  Kembali bekerja sama dengan PSJB, pemateri menerbitkan buku karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno.  Tidak berhenti sampai di situ.  Karya-karya ini juga mendapat sambutan baik dari kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bahkan bupati Bojonegoro saat itu.

Sampai-sampai penulis dan siswa didatangi oleh salah satu wartawan radar Bojonegoro untuk wawancara.  Alhasil, besuknya tayang di surat kabar harian radar Bojonegoro yang sangat terkenal itu.  Dari sana,  semua penasaran dengan buku karya siswa tersebut.  Sehingga Toko Buku Nusantara Bojonegoro banyak diserbu pembeli buku.  Semua ingin membaca dan belajar menulis, serta menerbitkan buku.

Buku karya Emi Sudarwati dan siswa SMPN 1 Baureno  menjadi inspirasi bagi banyak sekolah.  Bukan hanya di Bojonegoro, namun juga di Kabupaten lain.  Sehingga sering diwawancara wartawan berbagai media,  baik cetak maupun on line.  Akhirnya bisa tampil di berbagai media tanpa harus membayar sepeserpun.



Pada tahun 2015 ini, pemateri ditugaskan untuk mengikuti lomba inobel tingkat nasional.  Awalnya ada rasa tidak percaya diri.  Namun karena Bapak Edy Dwi Susanto selaku kepala sekolah waktu itu tidak henti memberikan semangat dan motivasi.  Akhirnya pemateri mengirimkan karya inovasi, meskipun dengan setengah hati.

Namun tidak disangka, ternyata dapat panggilan sebagai finalis inobelnas.  Bersama 102 guru dari seluruh Indonesia, pemateri diundang ke Jakarta untuk presentasi.  Ternyata bukan hanya presentasi, tetapi ada ujian tulis juga.  Seusai lomba, seluruh finalis diajak berwisata di Dufan.  Meskipun belum mendapat juara, namun pemateri sudah cukup bangga, bisa belajar bersama guru-guru hebat dari seluruh tanah air.

Di samping itu, pemateri juga mendapat rekomemdasi dari PSJB untuk mengikuti sayembara di BBJT.  PSJB adalah kepanjangan dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro.  Sedangkan BBJT kepanjangan dari Balai Bahasa Jawa Timur.  Lembaga tersebut, setiap tahun mengadakan sayembara, yaitu pemilihan sanggar sastra, karya sastra Indonesia, karya sastra Jawa, dan guru bahasa berdedikasi.

Puji sukur, pemateri mendapat anugrah sebagai guru Bahasa Jawa Berdedikasi.  Hal ini disebabkan karena sudah menerbitkan beberapa buku karya sastra siswa.  Semua itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain untuk lebih berinovasi lagi.  Dengan status baru ini, pemateri merasa memiliki tanggung jawab moral, agar lebih giat menularkan virus literasi di manapun juga.  Bukan hanya untuk siswa, namun juga untuk sesama guru.  Bukan hanya di Bojonegoro saja, tetapi sampai ke luar daerah.



Pada tahin 2016, pemateri ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro.  Sebenarnya saat itu sudah untuk yang ke dua kalinya.  Karena banyak guru menolak mengikuti seleksi tersebut, akhirnya pemateri ditugaskan lagi.  Ternyata tidak sia-sia.  Karena bisa menduduki juara ke tiga dari tiga puluhan peserta.

Pada tahun yang sama pemateri mengirimkan karya inobel.  Kali ini bukan atas inisiatif  bapak kepala sekolah, tetapi keinginan penulis sendiri.  Karena pengalaman tahun 2015 lalu begitu menginspirasi.  Kali ini bukan karya baru.  Namun karya lama yang diedit, dengan tambahan sesuai yang diberikan oleh dewan juri.  Alhasil, mendapat juara 1 inobelnas kategori SORAK (Seni, Olah Raga, Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal).

Tidak lama seusai lomba, pemateri mendapat panggilan untuk short Course di Negeri Belanda.  Belajar sistem pendidikan di negri kaum penjajah yang super maju itu.  Berkunjung ke dua universitas terbaik, yaitu Windesheim dan Leiden.  Juga berkunjung ke sekolah-sekolah terbaik, yaitu Van Der Capellen dan lain-lain.  Bukan hanya itu, semua peserta diajak berwisata ke Volendam, menyusuri Kanal Amsterdam dan mampir ke Brussel-Belgia.

Sepulang dari Belanda, masih juga mendapat panggilan workshop menulis jurnal di Kota Bali.

Lagi-lagi, di samping belajar juga bisa berwisaya keliling kota terindah di negeri ini.  Kali ini, semua peserta mendapat materi merubah naskah inobel menjadi jurnal.  Tentu ini bukan hal kecil, karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal berkelas nasional.  Nama jurnalnya adalah DEDAKTIKA.

TAHUN 2017.Tidak berhenti sampai di situ.  Beberapa bulan berikutnya.  Penmateri diundang untuk mengikuti workshop Literasi di Kota Batam.  Tidak ingin melewatka kesempatan, beberapa peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura.  Sehari di kota lion, melahirkan sebuah buku berjudul Dag Dig Dug Singapura.

Bukan aji mumpung atau apa, hanya tidak ingin melewatkan kesempatan baik.  Kapan lagi seorang guru bisa jalan-jalan ke Singapura, kalau bukan memanfaatkan kesempatan baik tersebut.

 Kebetulan juga bertepatan dengan liburan sekolah, jadi sama sekali tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Paska menyandang predikat juara I inobelnas, penulis belum boleh lagi mengikuti lomba yang sama.  Tentu dalam waktu yang belum bisa diprediksi.  Oleh karena itu, penulis tidak ingin kesepian.  Lalu mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu buku.  Penulis menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif.

Bukan hanya karya yang bersifat ilmiah.  Namun dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif,  berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, kumpulan pantun dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku patungan.  Namun saat ini lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).



TAHUN 2018. Ratusan buku lahir dari grup Patungan Buku Guru Inspiratif.  Karena sejak tahun 2018 ini lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama grup dirubah.  Yaitu menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI).  Beberapa undangan dari daerah-daerah lain mulai berdatangan.  Misalkan dari Kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta dan lain-lain. 

Akhirnya pemateri berinisiatif, hanya menerima undangan sebagai nara sumber pada Hari Sabtu-Minggu atau Jumat sore.

Sedang di Bojonegoro sendiri, pemateri aktif sebagai Guru Ahli (GA) di Pusat Belajar Guru (PBG).  Setiap saat harus siap menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan.  Juga sebagai juri dalam lomba-lomba guru.  Tempatnya bisa di PBG pusat atau di PBG kecamatan.

Selain di PBG, juga penmateri  aktif di PGRI.  Yaitu sebagai juri lomba Guru menulis dan pelatihan meulis buku.  Memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar, dan lebih kreatif dalam menulis. 

Menghimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media.  Jangan berharap sekali kirim pasti tayang atau dimuat.  Namun harus bersabar, terus-menerus mengirim naskah.  Lama kelamaan pasti dimuat juga.

Bukan karena penerbit merasa kasihan, tapi memang pengalaman meulis itu sangat diperlukan.  Dengan terus-menerus mengirim naskah, berarti sudah terus menerus belajar menulis pula.  Dari proses tersebut kita belajar.  Belajar meminimalisir kekesalahan.

TAHUN 2019. Pemateri mengawali terbitnya buku Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku.  Karya ini ditulis berdua dengan suami.  Semoga dengan lahirnya buku tersebut, ikatan pernikahan penulis dengan suami semakin bahagia.

Selanjutnya, di tahun yang sama.  Pemateri ingin menerbitkan 2 buku tunggal dan beberapa buku patungan.  Buku tunggal yang pertama berbahasa jawa, yaitu pengalaman selama haji dan umrah.  Sedangkan buku tunggal yang ke dua adalah ini,  Menulis dan menerbitkan Buku sampai Keliling Nusantara dan Dunia.  Alhamdulilah impian ini bisa menjadi nyata.

Adapun untuk patungan, seperti biasa saja.  Yaitu menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama grup Patungan Buku Inspiratif.  Juga menulis bersama penerbit Pustaka Ilalang,

Pemateri juga memaparkan peristiwa peluncuran TBM, sanggar teater, took buku kinanti. Yang dapat dilihat http://www.penerbitmajas.com/2019/10/peluncuran-tbmsanggar-teater-toko-buku.html?m=1

Peristiwa | Peluncuran TBM, Sanggar Teater, Toko Buku Kinanthi



 

PENERBITMAJAS.com - Minat baca masyarakat terhadap buku-buku bacaan bermutu ternyata lumayan. Namun ternyata pula ketersediaan buku-buku itu belum seperti yang diharapkan.
Oleh karena itu seorang pemuda Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro mengajak kerja sama Taman Baca Masyarakat Kinanthi untuk dapat mengelola TBM Kinanthi. Ini guna perwujudan aktivitas membaca buku sekaligus aktivitas belajar menulis.


Sambutan Ketua TBM Kinanthi sangat bagus dan bagai gayung bersambut didukung oleh KBM (Komunitas Belajar Menulis) Kepohbaru. Maka terselenggaralah acara peluncuran TBM, Sanggar Teater, Toko Buku Kinanthi pada 22 September 2019.




Pemuda itu bernama Rony (foto ke-3 dari atas saat memberi sambutan) yang pada acara itu berperan sebagai Ketua Panitia. Ketua TBM Kinanthi adalah Emi Sudarwati, S.Pd. (foto paling bawah ke-3 dari kiri) guru SMPN 1 Baureno yang telah malang melintang di dunia literasi Indonesia.


Ketua KBM adalah Sigit Priatmoko dosen Unisma/Universitas Islam Malang (foto ke-2 dari bawah saat memberi sambutan). Ketiganya memberi sambutan pada acara di Desa Blongsong Kecamatan Baureno pada hari bersejarah itu. Bertindak juga sebagai panitia adalah Slamet Widodo, S.Pd. (foto paling bawah ke-2 dari kanan) guru MTsN 3 Bojonegoro, M. Alim, S.Pd. (foto paling bawah paling kanan) guru SMKN Kepohbaru.


Peserta acara adalah masyarakat umum sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari siswa-siswi, guru, lain-lain, dari Bojonegoro, Lamongan, Tuban. Puncak acara adalah Pelatihan Menulis Puisi oleh Yonathan Rahardjo yang dikenal sebagai sastrawan Indonesia. Sebelum pelatihan, Emi Sudarwati memberi materi motivasi dunia penulisan. Pelatihan disemarakkan dengan tanya jawab dan atraksi pembacaan puisi oleh para peserta. (Foto: Viyo, ES, YR)



Selanjutnya pemateri mengajak peserta untuk ikut bergabung menulis dan menerbitkan buku di program SaGuSaBu (Satu Guru Satu Buku) & SaSis SaBu (Satu Siswa Satu Buku). Adapun ketentuannya sebagai berikut:

Kirimkan naskah buku Bapak/Ibu Guru atau Siswa. Tentang apa saja sesuai bakat dan minat. Misalkan:

1. Kumpulan Puisi

2. Kumpulan Cerpen

3. Kumpulan Esai

4. Novel

5. PTK

6. Naskah INOBEL

7. Kumpulan Pantun

8. Kumpulan Resep

9. Kumpulan Cerpen Misteri

10. Dll

Jenis huruf : Time new roman/12/1,5

Ukuran kertas A5

2:2;2;2

Naskah sudah lengkap dengan kata pengantar, biografi dan foto dalam 1 file. Jangan dipisah2.

Nama file : SaGu SaBu spasi nama, atau SaSis SaBu spasi nama

Contoh : SaGu SaBu Emi,  atau SaSis SaBu Emi

Biaya penerbitan tergantung jumlah halaman. 56 halaman kena 480.000. dst Ongkir bisa bayar di tempat. Dapat 10 buku, piagam penulis dan beberapa buku terbitan Majas Grup.

Alamat Pengiriman naskah : emiime2011@gmail.com

Konfirmasi ke WA : 08563155081. Jika naskah dinyatakan lolos kurasi, Silahkan transfer:

BRI 001101005862531 An Emi Sudarwatijika sudah transfer di foto. Lalu kirimkan ke WA ke no 08563155081. Waktu pengumpulan naskah mulai hari ini. Buku akan terbit paling cepat 3 bulan setelah kirim naskah dan TF.

Jika menginginkan cover buat sendiri, langsung dicantumkan saat kirim naskah. Dengan persyaratan, harus orisinil. Bukan jiplakan atau hasil rekayasa dari internet.

Jika tidakak ada, Penerbit menyediakan desain cover gratis. 1 X edit cover kena cas 100.000



Selesai sesi pemaparan materi, bu Fatimah selaku moderator mempersilakan peserta untuk bertanya.

Pertanyaan ke -1 dari Pak Jaferson  (Bandung-Jawa Barat)

Bagaimana awal mulanya ibu membuat buku, apakah punya ide tersendiri atau Bagaimana?

Jawaban bu Emi Sudarwati

Awal tahun 2013 bu Emi sudah kepikiran ingin Menerbitkan Buku.  Tapi belum tahu caranya.   Untunglah akhir tahun 2013 dipertemukan dengan Kawan-kawan PSJB.  Sehingga tahun 2014 terbit buku perdana bersama siswa.  Karena beliau  tidak mau sukses sendirin. Tapi ingin siswa desa pun bisa dikenal.

Pertanyaan ke- 2 dari bu Aning (Pati)

Untuk pengiriman naskah    atau materi untuk dibukukan, apakah harus sudah dalam keadaan siap cetak? Apa yang layout pihak percetakan? Bagaimana untuk naskah yang dikirim hanya berupa karya saja, berapa beaya yang harus dibutuhkan?  ( jika Caver dan layout bukan penulis)

Jawaban bu Emi Sudarwati

Naskah usahakan dikirim lengkap. Mulai judul, kata pengantar, daftar isi,  isi buku,bdan biografi penulis.  Sedangkan edit,  layout dan desaig kover akan dikerjakan TIM kami.  Namun jika Bapak/Ibu berkenan membuat kover sendiri juga diperbolehkan.  Tapi tidak akan mengurangi biaya ke penerbit. Ukuran kertas sudah A5 ya. Jadi bisa langsung dihitung biayanya.   Adapun biaya penerbitan, tergantung jumlah halaman dan banyaknya cetak. Catak minimal 10 eks. Kalau jumlah halamannya 50-60 halaman, biayanya 480.000. Sudah termasuk edit, lay out, desaig kover dan ISBN.

Pertanyaan ke -3 dari bu Santi (Jayapura)

1.      Untuk menerbitkan di Penerbit Majas, setelah dikirimkan naskah lengkap dan bukti yang, bagaimana dengan proses editor dan penerbitan ISBN nya

2.      Apabila ternyata naskah kami ditola , apakah ada pemberitahuan kepada kami? Karena pernah penerbit lain ber bulan bulan tdk ada info kepada penulis ternyata naskah nya ditolak.

3.      Beberapa kali saya ikut lomba TK nasional baik LKG ,inobel, MTMH atau lainnya, tetapi paling mentok di juara dua atau tiga. Dan belum pernah juara satu.

Bisa kah ibu berbagai trik agar menjadi sang juara. Sebagai motivasi kami semua.



Jawaban bu Emi Sudarwati

1.      Saya adalah salah satu editor di Penerbit Majas.  Masih banyak juga editor lainnya.  Termasuk Bu Hati dll. ISBN dll juga akan diurus tim kami.

2.      Jika naskah ditolak, akan langsung saya kabari.  Karena kami penerbit Indi, maka tidak banyak naskah yang ditolak.  Alasan ditolak: plagiat lebih dari 40%.

3.       Keren Bu.  Saya tidak ada trik khusus.  Jangan mudah mengarah dan terus belajar dan perbaiki karya kita. 

Tahun 2015 saya hanya finalis inobel.   Lalu tahun 2016 saya perbaiki naskah yang sama.  Tentu dengan mendengarkan kritik dan saran dari dewan juri.  Saya sih tidak ambisi ingin juara 1.  Tujuan saya ikut lomba hanya ingin belajar dari peserta lain.  Karena mereka berasal dari daerah seluruh Indonesia.  Mereka rata-rata terbaik dari daerah masing-masing.

Pertanyaan ke-4  dari bu Ika Fitriyati (Yogyakarta)

1.      Jika kita menulis buku dengan menggunakan bahasa jawa, dialek yang dipakai dialek mana? apakah dialek di sekitarkita? berhubung basa jawa itu banyk dialeknya, atau ada standar tersendiri?

2.      Referensi yang dipakai apakah harus referensi buku berbahasa jawa juga? atau bolehkan referensinya buku bahasa Indonesia ?

Jawaban bu Emi Sudarwati

1.      Saya menulis menggunakan Bahasa Jawa baku untuk buku ajar/pelajaran.  Sedang buku cerita atau puisi (Gurit) menggunakan Dialek Bojonegoro.  Dialog di cerita bisa menggunakan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Asing.  

2.      Referensi bisa gunakan Bahasa Jawa, Indonesia maupun Bahasa Asing.

Pertanyaan ke -5 dari bu Hanifah (Gresik)

untuk PTK. Ini asli naskah PTK atau bagaimana ? Yang dikirim ke penerbit ?

Jawaban bu Emi Sudarwati

Naskah PTK harus sudah dirubah sistematikanya seperti buku. Jadi ada beberapa yang boleh dihilangkan.  Ada pula yang harus disederhanakan.  Boleh 1 PTK atau lebih baik 1 buku terdiri dari kumpulan beberapa PTK.  Tapi kalau Ibu mau mengirim naskah asli juga boleh.  Namun ada biaya tambahan 100.000.   Karena tim akan memangkas sesuai kreteria kami.

Pertanyaan ke- 6 dari Pak Nengah (Bali)

Bagaimn konsep dasar yang ibu berikan kepada anak-anak agar anak-anak kita senang dan mau menulis, hingga bisa Sasisabu?

Jawaban bu Emi Sudarwati

Sebelum mulai pelajaran, saya minta 1 siswa membaca cerita.   Lalu yang lain mendengarkan.   Setelah itu semua membuat ringkasan cerita.  Kemudian secara acak mereka membaca ringkasan cerita di depan kelas. Lama-lama akan terbangun kultur membaca dan lalu menulis.

Pertanyaan ke-7 dari Ni Ketut Suastiwi .Guru Tk Negeri Desa Tusan. Klungkung Bali

Bolehkah Minta No Wa Bunda Pemateri. Kebetulan Kami 1 Almamater. Saya Punya Lagu Berbahasa Daerah Bali Tentang Kromo Inggil, ingin membawa lagu saya menjadi lagu berbahasa daerah Inggil se nusantara. Tema: Anggota Tubuh. Terimakasih

Jawaban bu Emi Sudarwati

Nomer WA saya 0821-3220-6671

Pertanyaan  ke – 8 dari pak Suryan (Bangka Barat)

Saya agak tertarik dengan nominal angka di penerbitan itu, apa dan bagaimana kelanjutan angka-angka tesebut, termasuk jika ingin memperbanyak eksemplar buku tersebut selain yang 10 tadi? Termasuk untk format layout cetak

Jawaban bu Emi Sudarwati

Jika ingin cetak dengan jumlah banyak akan lebih murah. Kalau mau cetak ulang juga bisa.  Biayanya tentu selisih. Tapi maaf, saya tidak hafal.  Harus lihat tabel.

Pertanyaan ke-9 dari Rasito, guru (Banyumas)

Bagaimana cara Ibu membangkitkan minat siswa untuk menulis sehingga dapat menghasilkan Buku Bersama Siswa?

Jawaban bu Emi Sudarwati

Membaca dan menulis itu butuh latihan agar menjadi kebiasaan. Jadi awalnya sedikit saya paksa anak untuk mendengarkan cerita dan menulis ringkasan cerita. Lalu membacakan di depan teman-temannya. Kalau tidak mendengarkan kan tidak dapat menulis ringkasan.   Pasti malu lah pas ditunjuk untuk baca ringkasannya. Lama-lama menjadi kebiasaan.

Pertanyaan ke-10 dari bu Titin Sumartini (Subang- Jawa Barat)

1.      Apa tips ibu sehingga ibu mendapatkan inobel tingkat Nasional

2.      Jika satu buku satu siswa, darimana sumber dana percetakannya, sedangkan mereka belum mampu mencari uang sendiri



Jawaban bu Emi Sudarwati

1.      Tidak ada tips khusus Bu.  Saya juga tidak ada ambisi untuk juara 1.  Niat awal saya hanya ingin belajar.  Jika akhirnya juara, itu bonus dari Allah.  Jangan mudah menyerah ya.  Semangat belajar dan terus berkarya.

2.      Biaya penerbitan dari orang tua siswa.  Tapi kalau ada anak-anak yang kurang mampu. Tapi karyanya bagus, saya siap membiayai dengan uang pribadi.



Pertanyaan ke-11  dari bu Husnul Hafifah (Bondowo)

1.      Apakah perbedaan PTK dan Karya inobel?

2.      Tantangan terbesar ibu dalam menggerakkan diri sendiri, guru lain dan siswa . Adakah tips khusus agar agar mereka mau bergerak?

3.      Mohon pencerahannya tentang Haiku!

Jawaban bu Emi Sudarwati

1.      Karya inobel harus bersifat beda, baru atau pembaharuan. Sedangkan PTK boleh menguji coba karya orang lain di kelas kita.

2.      Saya tidak pernah menganggap apapun sebagai tantangan.  Mengalir saja seperti air.   Agar mereka mau bergerak, kita harus memberi contoh.  Jangan bicara kalau belum melakukan.  

3.      Haiku itu puisi pendek. Terdiri dari 3 baris.  Strukturnya 5:7:5.  Jadi baris pertama terdiri dari 5 suku kata.  Baris ke 2 ada 7 suku kata. Dan baris ke 3 ada 5 suku kata.  Haiku ini aslinya berasal dari Jepang.

Pertanyaan ke- 12 dari Siti Nurbaya Az, SE (Karimun, Kepri)

Untuk menerbitkan buku puisi harus berapa judul dan berapa halaman. Gelombang 12.

Jawaban bu Emi Sudarwati

Untuk buku puisi tidak ada batasan jumlah judul.   Tapi untuk menjadi 1 buku ber ISBN minimal 50 halaman A5.

Pertanyaan ke -13 dari bu Lutfiyah (Mojokerto, Jatim) 

1.      Buku Antologi yang semacam apakah yang bisa utk penilaian PAK (kriterianya) ?

2.      Saya  guru mapel bahasa Indonesia di SMA , jika saya membuat Antologi Puisi Solo, berapa nilai/skor  angka kreditnya ? dan harus berapa halama

Jawaban bu Emi Sudarwati

1.      Untuk PAK sebaiknya buku pelajaran atau buku ajar, diktat dll.  Kreterianya bisa baca di buku 4.   Maaf saya tidak hafal. Sedangkan karya inovatif, bisa juga berupa buku puisi atau cerita inspiratif.

2.      Untuk guru Bahasa kalau tidak salah nilainya 4. Pedoman PAK.  Jumlah halaman, minimal 50.  Agar bisa diajukan ISBN.

ini ada wawasan dari tim penilai PAK. Ada banyak alasan mengapa Buku dll tidak dinilai:

1.      Bisa jadi Timnya yang salah memaknai sebuah bukti fisik untuk dikonvert menjadi nilai angka kredit karena multi tafsir atau dokumen salah kamar.

2.      Bisa jadi ybs salah memasukkan bukti fisik (pengembangan diri, Seminar, KTI, penghargaan atau lainnya). Semisal: Narasumber/peserta pelatihan masuk katagori pengembangan diri. Untuk dapat nilai hrs sekurang_kurangnya melampirkan foto copy undangan, surat tugas, resum kegiatan/foto dokumentasi keg dan piagam dengan struktur program tidak kurang dari 30 jp yang dilegalisir atasan. Untuk Seminar hampir sama dengan perlakuan pelatihan, namun tanpa struktur materi maupun JP. (harus dimasukkan kolom seminar bukan pelatihan

Pertanyaan ke-14 dari Agathe  (Kapuas Kalimantan Tengah)

Misalkan saya mau menulis buku LKS untuk siswa. Sumbernya dari berbagai buku yang ada, menyesuaikan dengan waktu, keadaan dan ketersediaan di lokal. Apakah itu bisa jadi sebuah buku ?

Jawaban bu Emi Sudarwati

Kumpulan soal bisa saja menjadi buku.  Cantumkan daftar pustaka, jika ibu mengutip dari berbagai sumber.

Pertanyaan ke-15 dari Aam Nurhasanah (Lebak-Banten)

Bisakah  diceritakan bu, isi dari buku LUNG yang ibu terbitkan bersama Siswa  SMPN 1 Baureno? Saya penasaran bagaimana kombinasi duet antara Guru dan Siswa dalam menulis hingga menerbitkan buku? Bagaimana teknik pembagian naskahnya?

Jawaban bu Emi Sudarwati

Buku Lung berisi 23 cerita pendek.  Saya hanya menulis 1 judul saja.   Sedang yang 22 judul ditulis oleh siswa. Saya sudah lupa judul-judul nya.  Itu sudah lama sekali.   Harus buka-buka bukunya lagi kalau mau tahu isinya.

Pertanyaan ke-16  dari  bu Marnawati (Tanah Bumbu-Kalsel)

Apa kiat-kiat yang harus saya lakukan agar bisa  merangkai kalimat, bu Emy? Saya sangat susah jika harus merangkai kalimat apalagi jika setiap kalimat itu mau dipadukan menjadi sebuah paragraph.

Jawaban bu Emi Sudarwati

Agar bisa merangkai kata dengan baik ada bebera langkah:

1. Baca

2. Baca

3. Baca

Jadi harus banyak membaca.

4. Tulis

5. Edit

Semua perlu pembiasaan.   Karena menulis itu ketrampilan.  Jadi bisa dipelajari dan dibiasakan.  Bukan sulapan.

Pertanyaan ke-17  dari bu Sitti halimah (Jayapura)

Pernahkah ibu merasa jenuh untuk menulis,bagaimana cara mengatasinya

Jawaban bu Emi Sudarwati

Saya manusia biasa.  Pasti punya rasa jenuh.  Kalau sudah begitu, saya akan mencari hiburan. Bisa jalan-jalan atau makan-makan dengan keluarga. Saya hanya menulis 10-20 menit saja setiap hari.  Tidak terus-menerus.  Tapi setiap hari.   Baik di blog, laptop maupun HP.

Pertanyaan ke-18  dari bu Suhaimi (Aceh)

1.      Mohon diberikan motivasi dan ceritakan kepada kami, tips yang membuat ibu bisa bersemangat begitu dalam menulis.

2.      Bagaimana cara ibu mengatur waktu ( menejemen waktu) antra menulis dengan kegiatan lain.

Jawaban bu Emi

1.      Agar motivasi kita selalu terbangun, tentukan alasan kita menulis.  Kalau saya,. Menulis untuk mengukir sejarah sendiri.  Semua karya pasti akan menemukan takdirnya. 

2.      Menulis tidak butuh waktu khusus.  Saya hanya menulis 10-20 menit saja setiap harinya.   Tapi harus rutin ya.  Baik itu di blog pribadi,  laptop, maupun HP. Sedangkan waktu saya yang lain masih 23 jam lebih.  Bisa lah melakukan apa saja.

Dari beberapa pertanyaan di atas, bu Emi Sudarwati membuat simpulan sebagai berikut:

Buku adalah bukti sejarah.  Merupakan catatan bahwa kita pernah hidup di dunia ini.  Oleh karena itu, saya ingin mengabadikan setiap jengkal perjalanan menjadi sebuah buku.  Setiap karya pasti akan menemukan takdirnya sendiri.  Semoga buku sederhana ini mengispirasi banyak orang.

Materi mala mini ditutup oleh Om Jay. Beliau mengimbau agar setelah mendapatkan materi ini , peserta pelatihan membuat resumenya diketik di word dan dikirimkan filenya ke omjaylabs@gmail.com. kemudian publikasikan tulisannya di blog masing-masing peserta dan viralkan ke media sosial.

Salam Literasi!  (arumliterat.blogspot.com)

Minggu, 07 Juni 2020

Melawan Covid-19 dengan Literasi



Melawan Covid-19 dengan Literasi
Oleh : Arum Handayani, M.Pd.

(Guru SMPN 3 Subang, pegiat literasi, ketua Komunitas Literasi Lisangbihw )





Pandemi Covid-19 telah merambah pada masalah infodemik. Ini membuktikan bahwa daya baca  masyarakat masih minim terkait mengakses informasi mengenai fenomena Covid-19. Tidak semua  informasi yang beredar di media sosial itu benar berdasarkan fakta.  Ada sebagian informasi yang merupakan opini. Kekeliruan-kekeliruan opini inilah yang menyebabkan infodemik semakin menyebar luas. 

Penyebarluasan infodemik akan berdampak pembodohan bagi masyarakat. Kondisi seperti ini akan sangat berbahaya, karena masyarakat akan terpengaruh oleh informasi-informasi yang dapat menyesatkan. Jika hal ini tidak segera ditangani, maka upaya pencehagahan penyebaran Covid-19 ini akan semakin sulit. Harus ada usaha pencegahan infodemik agar masyarakat mendapatkan informasi yang  akurat terkait masalah wabah berbahaya ini.

Bagaimana masyarakat dapat melawan penyebaran Covid-19 dengan berliterasi? Literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis tanpa makna. Kebermaknaan hasil membaca dan menulis inilah yang harus diolah dalam menyikapi permasalahan yang sedang dihadapi.

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam  mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Pernyataan demikian tertuang dalam Permendikbud 28 tahun 2016. Pernyataan senada juga dinyatakan oleh UNESCO, bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Kecerdasan seseorang dalam menerima infomasi sangat berpengaruh terhadap tindak lanjut informasi tersebut. Melalui kecerdasan itulah seseorang diuji kemampuan berpikir secara rasional.  Mampu  menggunakan sumber informasi secara mangkus dan sangkil pada saat dihadapkan suatu tangtangan.

Dengan kemampuan literasinya,  seseorang akan mengkaji terlebih dahulu kebenaran informasi terkait pandemi Covid-19 yang diterima. Dua hal yang harus menjadi bahan kajian kebenaran informasi, yakni dari mana sumber informasi tersebut, dan siapa nara sumbernya. Dengan demikian infodemik Covid-19 tidak akan menyebar lebih luas.

Permasalahan infodemik Covid-19 yang sudah menyebar di masyarakat, tidak akan diterima oleh orang yang menggunakan daya literasinya dengan baik. Informasi yang diperoleh baik secara lisan maupun tulisan akan dikaji terlebih dahulu. Apakah sumber informasi ini benar akurat atau sekadar hoaks. Orang literat tidak akan merasa khawatir yang berlebihan, panik, bahkan sters dalam menyikapi pandemi Covid-19.

Informasi yang akurat dan terpercaya  dapat diperoleh dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia. Gugus tugas ini berada dalam lingkup Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dengan melibatkan kementerian, lembaga, dan unit pemerintahan lain seperti Kementerian Kesehatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan pemerintah di daerah

Berdasarkan paparan di atas, dapat dinyatakan bahwa dengan memberdayakan kemampuan literasi yang baik, akan mengatasi masalah infodemik Covid-19 dengan baik pula. Informasi yang akurat terkait Covid-19 akan diperoleh oleh orang-orang literat.  Orang literat tidak akan sesat dalam mengakses informasi. Dengan demikian, penyebaran Covid-19 dapat dilawan dengan literasi (AH)










Sabtu, 06 Juni 2020

Usia Senja, Mampukah Berkarya?



Usia Senja, Mampukah Berkarya?


Setengah abad lebih usiaku kini. Puji syukur pada Illahi Robbi, karena pada usia senja ini, aku masih merasakan gairah hidup yang kian menggebu.

Penglihatanku sudah semakin nanar. Mata ini sudah tak berbinar lagi melihat eloknya cakrawala. Lututku sudah melemah. Kaki ini sudah tak sekuat dulu lagi untuk menopang tubuhku yang mulai ringkih.

Namun ada satu hal yang tak pernah surut di usia senja ini. Yakni hasrat. Ya, hasrat untuk tetap istiqomah dalam menjalani kehidupan. Hasrat untuk mencari kebahagian, karena hidup yang tak bahagia bagaikan kepompong tanpa ulat.

Melihat aktivitas teman sebaya, sepertinya mereka lebih disibukkan dengan memanjakan  dirinya. Pergi kuliner bersama teman, belanja di mall, bahkan berkunjung ke beberapa tempat wisata. Seolah tak ada puasnya menghabiskan banyak uang. Ujung-ujungnya mereka akan kembali pada situasi jenuh.

Tidak ! Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku yakin masih bisa produktif dan bermanfaat untuk kehidupan orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manuais adalah manusia yang bermanfaat?
Tak pernah terbayangkan sedikit pun untuk menjadi penulis. Jangankan menulis, membaca saja rasanya mata ini sudah lelah. Bukankah membaca adalah modal utama untuk menjadi seorang penulis?

Namun, takdir sudah memboyongku untuk menjadi seorang penulis. Ya, walaupun masih kategori penulis kacangan. Masih jauh jika dibandingkan dengan penulis sekelas Om Jay, kang Encon,  Dodi Ahmad Fauzi, Prawiro, Erni Wardani, Iyus Rustandi, dan sederet penulis Jawa Barat lainnya.

Kok bisa? Ya bisalah, bahkan sangat bisa. Karena menulis sebenarnya adalah menuturkan kata hati kita dengan tulisan. Ikuti kata hati, tuliskan, maka jadilah tulisan. Tentu saja teknik kepenulisan harus kita pelajari. Tapi itu bisa sambil berjalan. Bukan suatu yang sulit untuk dikerjakan.

Yang penting untuk menjadi seorang penulis adalah komitmen diri. Jika komitmennya kuat, maka menulis akan menjadikan ruang tersendiri yang dapat memberikan kepuasan hidup. Tidak menjadikan sebuah tekanan.

Penting untuk mengikuti beberepa event pelatihan menulis. Selain untuk menambah wawasan, juga bisa menambah persaudaraan. Bukankah sebagai mahkul sosial kita perlu pertemanan yang sehat?
“Tarian Sang Sinden” adalah novel pertamaku yang terbit tahun 2019. Novel ini hasil dari ceracau dalam hati. Aku tidak suka dengan sosok sinden tengil yang selalu mengumbar aurat dan memancing syahwat lelaki. Sebagian cerita terinspirasi dari kisah pribadi.

“Romantika Aisyah” adalah novel kedua yang terbit tahun 2020. Novel ini terinspirasi dari seorang bocah kecil yang hidupnya selalu dirundung derita. Novel ini pun terpacu oleh tantangan yang diberikan oleh KPPJB.

Sederet buku antologi dari berbagai genre, kian menambah koleksi karya tulisku. Namun, terkadang ada rasa jenuh juga hari-hari selalu bergelut dengan laptop dan gawai. Selintas sempat berpikir, haruskah kutinggalkan dunia menulis ini?

Suami sudah mulai mencemburui laptopku. Bahkan cucu-cucuku sudah mulai menarik-narik bajuku ketika aku sudah mulai terlena dengan gawaiku. Ah, sunguh suasana situasi yang mulai membuat galau yang segalau-galaunya.

Untunglah, aku sudah tergabung dengan grup pelatihan menulis Om Jay di bawah naungan PGRI dan Penerbit Andi. Rasa jenuhku mulai sirna. Perlahan kugauli lagi laptopku. Walau harus merangkak mengerjakan tugas-tugas, aku harus bisa menuntaskan pelatihan ini.

Terispirasi dari mentor pada hari Jumat, tanggal 5 Juni 2020. Dra Sri Sugiastuti,M.Pd. Beliau pun mulai produktif menulis pada usia setengah abad.  Mulai menyususn buku ajar, menulis buku antologi, mengukuti palatihan-pelatuhan menulis, dan memberdayakan IT.

Aktivitasnya menghantarkan beliau sebagai penulis ternama. Dari karya-karyanya beliau bisa mendulang rupiah yang jumlahnya lebih dari nilai tunjangan sertifikasi. Ada kemiripan kisah antara aku dengan beliau. Hanya satu saja yang membedakan, aku belum mampu mendulang rupiah dari hasil karyaku.


Tetap semangat menulis, Bekerja dari Rumah. Salam Literasi.





Kamis, 04 Juni 2020

Salinan Materi Latihan Menulis Gelombang 12 Pertemuan ke 2



Salinan Materi Belajar Menulis Gelombang 12

Pertemuan 02             : Rabu, 3 Juni 2020

Waktu                         : Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Pemateri                      : Bu Hati Rahayu, S.Pd

Topik                           : 1. Menulis PTK menjadi buku

                                      2. Menerbitkan buku dari hasil PTK

Penulis                         : Arum Handayani_ SMPN 3 Subang (arumhandayani335@gmail.com)



 


Menulis PTK bagi guru PNS adalah suatu kewajiban untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan golongan. Dalam menyusun PTK, agak susah menentukan latar belakang, karena itu adalah titik awal dalam menentukan PTK yang akan dilakukan.

PTK yang kita buat dapat dijadikan jurnal atau buku. Jurnal dan buku ini dapat dijadikan sebagai bahan Penilaian Angka Kredit (PAK). Selain itu PTK yang dijadikan artikel atau buku dapat dijadikan bahan literasi.

Banyak guru yang ingin menerbitkan PTK dalam bentuk  buku kepada bu Hati. Namun, Bu Hati harus mengubahnya terlebih dahulu agar buku tersebut tampak lebih baik dan menarik untuk dibaca.

Bu Hati memberikan contoh  PTK yang dapat dijadikan buku dengan dua versi. Namun, contoh ini tidak untuk dipublikasikan kepada umum. Contoh ini hanya untuk peserta pelatihan menulis. dengan pertimbangan, perizinan hak cipta.

Namun demikian, para peserta pelatihan dapat mengembangkan PTK-nya menjadi buku dengan versi masing-masing

Beberapa PTK, Inobel, dan best practice yang telah diubah menjadi buku dan diterbitkan sebagai berikut

                        


           
 









            


Menurut bu Hati,  dalam mengubah PTK menjadi buku, penting sekali memperbannyak isi materi variabel bebasnya dari kata kunci judul buku kita, atau lebih memperluas isi bacaannya. Tentunya berdasarkan sumber yang relevan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kebingungan para guru dalam menentukna judul PTK

Menanggapi pertanyaan Pak M. H. Pahdi dari  Banjarmasin, yaitu apakah PTK yang dijadikan buku bisa  dari 2 orang guru yang sama-sama melakukan PTK? Beliau menjawab bahwa buku boleh disusun oleh dua orang, dan nilai PAK nya juga untuk dua orang tersebut.

Mengenai jumlah halaman, beliau menyarankan di angka aman yaitu 70 halaman. Materinya dikembangankan, tidak sesimpel di PTK


Peserta pelatihan menulis lainya (Aam Nurhasana dari Lebak-Banten) menyatakan kekagumannya kepada ibu Hati sebagai editor handal yang mampu membuat tulisan menarik untuk dibaca.

Dengan rendah hati, bu hati menyatakan bahwa beliau masih belajar dan banyak membaca buku best seller dan membaca buku yang relevan.

Pertanyaan  Fatlun Thaib dari Gorontalo. Seberapa perlu pra siklus dalam PTK?

Bu hati menjawab bahwa siklus dalam PTK bisa dilakukan  satu kali jika berhasil. Apabila tidak berhasil bisa dilakukan dua kali, pernyataan ini didukung oleh Researc Grant Seaqis dan profesor yang menguji PTK-nya pada tahun 2017

Pertanyaan berikutnya dari Pak Supyanto (Bekasi). Bagian-bagian mana sajakah batang tubuh yang dibuang dan dikenbangkan dati PTK supaya menjadi buku yang memenuhi syarat?

Jawaban bu Hati. Bagian yang dibuang yaitu bagian  pendahuluan pada kata PTK, sedangkan bagian yang dikembangkan adalah materi kata kunci. Misalkan judul Implementasi Media Stearofom Pembelajaran Organisasi Kehidupan untuk Meningkatkan Kreativitas. Kita kembangkan tentang Media (Pengertian, manfaat, jenis), Pembelajaran (materi tentang belajar mengajar), Kreativitas (diberi pengertian dan lainnya). Kita upayakan agar pembaca memahami isi buku kita secara lengkap, dan mengenai apabila menjadi buku,bebas terserah penulis. Karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing yang berbeda sesuai penggalaman dan bacaannya yang dia dapat. semakin literatnya penulis akan semakin oke buku yang diatulis. Karena literasi rangkaian membaca, berpikir dan menulis.



Pertanyaan   Noralia dari Semarang, Dari outline kedua versi buku PTK yang saya tangkap, apakah benar jika versi buku PTK itu lebih ditekankan pembahasan pada tinjauan pustaka dan hasil penelitiannya? Data data dan grafik yang didapat ketika penelitian apakah ikut dimasukkan ke dalam versi buku? Apakah hasil penelitian R&D bisa juga dijadikan sebuah buku ibu?

Penjelasan dari bu Hati. Versi buku ke 2 itu PTK keseluruhan kita masukkan dalam buku, tapi diberi materi tentang PTK. Seperti yang dicontohkan.  Pernah ditulis oleh Om Jay dan saya juga. Data grafik boleh dimasukkan. Iu bukti telah diterapkan atau diaplikasikan di kelas. R&D juga sangat bisa dikembangkan.


pertanyaan  bu Santi dari  Jayapura: Untuk PTK yang  dijadikan buku, itu satu PTK saja atau harus kumpulan PTK? Apakah satu best praktice juga bisa dijadikan buku? Untuk dibuat jadi buku apakah harus diseminarkan? Sekarang sudah pembelajaran K 13. Saya punya PTK tapi tahun sebelum K13 dan perrnah jd juara di even My Teacher My Hero.Apakah boleh dibuat buku?


Jawaban bu Hati. Kalau mau membuat versi penulisan 1 cara saya satu PTK saja, kalau mau versi dua bisa beri contoh PTK satu atau lebih. Banyaknjuga ang  menulis Kumpulan PTK. biasanya saya menuliskan pembuka dan nisi materi sepintas tentang PTK. Best practice sangat bisa dijadikan buku, setelah dikembangkan oleh penuli. Best Practice tidak usah diseminarkan. PTK sebelum kurikulum 13 sangat bisa dijadikan buku





Pertanyaan  bu Eka Lisdianty dari SMAN 1 Kawali Ciamis. Bagaimana jika dalam PTK yang melaksanakan tiga siklus, di siklus terakhir mengalami penurunan hasil, apakah PTK-nya harus diulang.  Apakah ada yang salah dalam penentuan variabelnya apabila terjadi hal demikian?



Jawaban bu Hati. Jika siklus dua meningkat sudah saja, dan  jika siklus akhir menurun lakukan refleksi dan tindakan lagi. Variabelnya jangan terlalu banyak, ketidakberhasilam dkarenakan tidak fokus menilai setiap indikator dari variabel itu. Fokus satu variabel dan mendalam pembahasannya, itulah namanya PTK.



Berikutnya pertanyaan Mahayu dari Bali.  Bagaimana caranya agar kita menerapkan suatu teori yang akan kita jadikan PTK menjadi efektif? Karena karakter belajar dan psikologi siswa dalam satu kelas sangat beragam?



Jawaban bu Hati, agar efektif pastinya sesuai dengan tidnakan yang akan kita lakukan , jangan meluas. Sesuai kata kunci judul PTK kita, karena jika kita bahas mendalam materi itu malah meluas.  Jadi teori fokus ke kata kunci PTK . Cari bahasannya, apakah atau psikologi?  Pilih salah satu.

Pertanyaan Wiji. Di bagian buku yang manakah hasil2 penelitian ditulis (dimunculkan)?


Jawaban bu Hati. Bagian yang diberikan tindakan, atau kata kunci PTK



Pertanyaan Muh. Said dari Makassar. Dalam penilaian Dupak sering PTK tidak dapat nilai dari Tim penilai. Berdasarkan pengalaman  apakah perkiraan kekurangan sebuah PTK ? Jelaskan perbedaan PTK dgn Best Practice !



Jawaban  bu hati. Untuk kenaikan pangkat, mengikuti  peraturan di daerahnya masing- masing. PTK dan best practice sangat berbeda. PTK ada alur penelitian serangkaian observasi-rencana-tindakan-refleksi- juga bersiklus, bila siklus satu tidak berhasil.  Sedangkan best practice pengalaman terbaik di kelas dengan sistematika tertentu yang lebih simpel. Laporan PTK dapat dijadikan best practice. Namun, laporan best practice tidak dapat dijadikan PTK.



Pertanyaan Pak Yulius dari Tana Toraja. PTK yang telah dibuat, ketika akan dibuat jadi buku, apakah dilakukan daur ulang pada kalimat-kalimat yang digunakan atau hanya dipermak pada sejumlah bagian? Kira-kira caranya seperti apa mengolah kalimat PTK menjadi kalimat buku?

Jawaban bu Hati. Bebas terserah penulis, pokoknya harus beda dengan PTK. Patokannya minimal 70 halama di jertas A5. Mengolah kalimat PTK jangan ada kata kata laporan PTK pada badian kata pengantar atau bagian pembuka buku.



Simpulan dari paparan di atas adalah bahwa ketika guru PNS membuat buku dari bahan PTK akan diperoleh banyak manfaat. Selain dapat dibaca oleh semua pihak, juga karya kita akan abadi, tak lekang oleh waktu.



Demikian salinan materi pelatihan menulis gelombang 12 yang dilaksakan pada hari Rabu malam bersama bu Hati pada Tanggal 03 Juni 2020. Semoga bermanfaat.

Salam literasi! (arumliterat.blogspot.com)

Senin, 01 Juni 2020

Resume Bersama Om Jay


Tugas 1
Belajar Menulis Gelombang 12
(arumliterat.blogspot.com)
Resume Materi Pelajaran Hari Senin
Pelatihan daring bersama Om Jay, tidak untuk sekadar coba-coba atau untuk sekadar iseng. Namun harus dbangun jiwa literat yang paten. Kemampuan menyimak dan menulis para guru adalah senjata yang paling ampuh untuk mengikuti pelatihan ini. tanpa menyimak dengan baik, tidak akan menghasilkan sebuah pemahaman yang pasti. Menulis tanpa teori yang benar akan menghasilkan tulisan yang ambigu.
Sebagai peserta pelatihan menulis, saya merasa sangat takjub dengan sistem yang dibuat oleh om Jay. Mulai dari pengrekrutan peserta, penyampaian maksud dan tujuan, serta target yang akan dicapai, semua tertata apik. Atas dasar itulah saya akan berusaha sebisa mungkin mengikuti pelatihan ini dengan niat tolabul ilmu, mencari barokah ilmu, dan sesuai dengan target pelatihan.
Sebagai guru yang produktif, kepemilikan blog menjadi suatu keharusan. Namun bukan suatu kewajiban. Karena jika dikaitkan dengan hukum agama, maka guru yang tidak mempunyai blog, tidak akan berdosa. Tetapi guru yang produktif harus memberdayakan kemampuan personal dalam bidang IT. Dunia IT kini menjadi primadona sistem pelatihan. Kemampuan IT guru adalah implementasi dari literasi digital.  Melalui blog, kreatifitas dan inspirasi guru akan terfasilitasi.
Simpulan dari paparan materi pelatihan bersama om jay hari ini. intinya guru harus mempunyai wadah atau media menulis dengan memberdayakan blog. Berawal dari pembuatan blog, hingga mengisi tulisan-tulisan di blog pribadi, akan mengasah kemampuan guru dalam menulis dan menyampaikan inspirasinya.
Terima kasih om Jay, semoga om Jay beserta keluarga selalu dalam lindunganAllah Swt. Aamiin




Jumat Berkah di SDN Karanganyar

  Masya Allah Tabarakallah, rezeki buat anak-anak soleh dan solehan siswa SDN Karanganyar. Hari ini, Jumat, 01 September 2023 ada seorang ha...